DetikNews
Senin 27 Feb 2012, 14:15 WIB

Mustafa Nahrawardaya: Perempuan \'Kill Bill\' Tak Luar Biasa di Dunia Preman

- detikNews
Mustafa Nahrawardaya: Perempuan \Kill Bill\ Tak Luar Biasa di Dunia Preman
Jakarta - Kasus penyerangan di RSPAD Gatot Subroto, Jakarta Pusat, pada Kamis (23\/2) dinihari, terus didalami. Polisi mengidentifikasi keberadaan perempuan berambut pirang, kurus, dan tinggi bak di film \\\'Kill Bill\\\'.

Keberadaan perempuan \\\'Kill Bill\\\' ini masih misterius. Di dunia preman, seorang perempuan seperti \\\'Kill Bill\\\' tidaklah menjadi sesuatu yang luar biasa. Di dunia preman yang kerap diliputi kekerasan tidak mengenal laki-laki dan perempuan.

\\\"Kelompok yang berasal dari lingkungan yang diliputi seperti preman yang kadang terlibat dalam aktivitas kekerasan, debt collector, perebutan lahan parkir, untuk bisnis ini tidak kenal laki-laki dan perempuan. Kegiatan ini hanya untuk menunjukkan penguasaan,\\\" ujar Koordinator Indonesia Crime Analyst Forum (ICAF) Mustafa B Nahrawardaya.

Menurut dia, setelah kelompok Basri Sangaji meredup karena pentolannya tewas, kelompok yang terlihat kuat di Jakarta adalah John Kei. Karena merasa berkuasa, kelompok-kelompok semacam ini merasa tidak ada yang ditakuti dan bisa hidup di mana-mana.

\\\"Keberadaan perempuan dalam kelompok ini bukan sesuatu yang luar biasa. Sekarang yang bisa berkuasa tidak harus laki-laki. Kalau perempuan itu bisa mendukung kekuasaan, maka dia bisa saja muncul. Kalau memang mendukung kekuasaan, maka perempuan di kelompok itu tidak takut lagi untuk memunculkan diri,\\\" jelas dia.

Berikut ini wawancara detikcom dengan Mustafa pada akhir pekan lalu:

Penyerangan di RSPAD dilakukan saat para korban melayat. Ini merupakan bentuk kenekatan karena memilih melakukan penyerangan di tempat itu dan bukan di rumah yang bersangkutan?<\/strong>

Pelaku tidak lagi takut pada pihak aparat, karena penyerangan tidak mempertimbangkan apakah tempat yang diserang itu milik tentara. Nah, ini polisi tidak tahu atau sengaja membiarkan mereka. Pergerakan massa ini seharusnya bisa dibaca polisi, sehingga polisi juga bisa bergerak cepat. Bukan bergerak setelah peristiwa terjadi.

Apapun motif, kalau merasa aman dan tidak takut, maka mereka bebas melakukan apapun, termasuk membunuh. Presiden telah mengatakan, tidak ada lagi ruang bagi premanisme. Presiden sudah menyatakan kalau ada kejanggalan segera ditindak dan jangan dibiarkan bertindak anarkis. Aparat penegak hukum harus melakukan tindakan tegas. Kalau tidak, maka kesannya ada pembiaran.

Pelajaran apa yang bisa diambil dari kasus ini?<\/strong>

Ini sebenarnya sangat memalukan. Terjadi di RS tentara yang tidak jauh dari kantor polisi. Bayangkan, terjadi di depan hidung aset milik negara. Polisi harus dievaluasi besar-besaran. Kok kelompok itu bisa lolos, seperti dibiarkan. Apapun, siapapun, ini premanisme. Premanisme ini menakutkan, meski tidak berniat menakuti masyarakat luas. Bahkan mereka tidak takut beraksi di RS tentara sehingga masyarakat akan merasa seolah tidak ada tempat aman

Polisi kecolongan dengan peristiwa itu?<\/strong>

Sebelum peristiwa itu kan ada konvoi massa puluhan orang, jadi tidak mungkin kecolongan. Malam itu polisi di mana? Intelkamnya di mana? Lalu ada polsek, polres, polda.

Salah satu pelakunya dikenali sebagi perempuan berambut pirang yang jago samurai. Dalam geng-geng seperti ini, rupanya perempuan pun bisa seberani laki-laki?<\/strong>

Kelompok yang berasal dari lingkungan yang diliputi seperti preman yang kadang terlibat dalam aktivitas kekerasan, debt collector, perebutan lahan parkir, untuk bisnis ini tidak kenal laki-laki dan perempuan. Kegiatan ini hanya untuk menunjukkan penguasaan.

Setelah kelompok Basri Sangaji tidak ada, yang kelihatan kuat adalah John Kei. Karena merasa berkuasa, kelompok-kelompok semacam ini merasa tidak ada yang ditakuti dan bisa hidup di mana-mana.

Keberadaan perempuan dalam kelompok ini bukan sesuatu yang luar biasa. Sekarang yang bisa berkuasa tidak harus laki-laki. Kalau perempuan itu bisa mendukung kekuasaan, maka dia bisa saja muncul. Kalau memang mendukung kekuasaan, maka perempuan di kelompok itu tidak takut lagi untuk memunculkan diri.

Kalau polisi tidak punya taring, mereka tidak akan takut. Tak lagi malu dan takut karena yang penting dapat uang.

Agar tidak marak aksi tebas orang atau tembak orang dengan bebas di masyarakat bagaimana?<\/strong>

Dalam UU Polri, polisi bertugas menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat. Polisi juga berkewajiban menegakkan hukum, mengayomi dan melindungi masyarakat. Dengan amanat itu, polisi tidak boleh membiarkan adanya gangguan keamanan masyarakat. Harus ditindak langsung, jangan tunggu.

Penegakan hukum harus pasti dan jelas. Kalau penegakan hukum hanya di mulut saja, dan masih kerja sama dengan kelompok itu, maka polisi membiarkan premanisme terjadi. Akhirnya pelanggaran hukum dibiarkan. Jangan biarkan ada pelanggaran di tempat umum yang membuat masyarakat merasa tidak aman.

Selanjutnya kalau memberikan efek jera juga tidak boleh tebang pilih. Misalnya gerakan pembersihan preman yang dilakukan preman kelas teri diberitakan, tapi yang kakap dibiarkan memalak, kuasai lahan parkir. Ini kan jadinya tidak imbang. Karena efek jera tidak dirasakan maka mereka akan merampok kembali, memalak kembali, hingga melakukan sesuatu yang membahayakan.

Aparat penegak hukum kurang tegas?<\/strong>

Aparat hukum tidak boleh kerja sama dan memberi peluang pada pelaku untuk kembali ke jalanan. John Kei dulu potong jari orang lain hanya dihukum 8 bulan penjara. Ini juga menunjukkan aparat tidak serius menangani premanisme.

Seharusnya hukumannya ini membuat peristiwa yang sama tidak akan terjadi lagi karena mereka kapok. Kalau hukumannya tidak menjerakan, maka peristiwa serupa atau lebih berat lagi pasti akan terulang.

Dengan ditangkapnya John Kei pun akan ada dampak?<\/strong>

Ditangkapnya John Kei bukan berarti mematikan premanisme atau membuat mereka punah. Dia ini disebut panglima. Kelompok seperti ini sebenarnya banyak dan saling bersaing. Tanpa tindakan yang benar-benar tegas pada kelompok preman maupun tindakan premanisme maka preman tidak akan mati.

Preman ini seperti spiral, kalau yang dimatikan yang kecil maka masih ada yang besar dan jadi virus yang menularkan ke yang lain. Kelompok ini punya anggota dan struktur. Mereka bangga kalau kelompoknya diberitakan di media. Maka itu harus dihukum tegas, kalau sampai polisi dan preman bergandengan tangan akan sangat membahayakan dan tidak akan mematikan. Kelompok preman itu tumbuh seperti alih generasi.

Kenapa kelompok preman ini punya banyak pengikut?<\/strong>

Kelompok preman itu juga banyak digandrungi karena menjanjikan. Ada anggota preman yang jadi pengusaha terkenal dan ada yang punya karir. Nah, banyak orang yang berangan-angan bisa seperti anggota preman lain yang sukses. Selain karena alasan ekonomi juga karena alasan kekuasaan dan jabatan.

Maka itu polisi harus segera berbenah diri. Kalau presiden bilang jangan beri ruang pada premanisme ya jangan diberi ruang. Harus diberantas segera.


(vit/gah)
Akhiri hari anda dengan menyimak beragam informasi penting dan menarik sepanjang hari ini, di "Reportase Malam", Senin sampai Jumat pukul 00.30 - 01.00 WIB, hanya di Trans TV
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed