detikcom
QuickCount Persentase Sampel
  • 6,90%
  • 9,20%
  • 6,90%
  • 18,90%
  • 14,30%
  • 11,80%
  • 9,70%
  • 7,50%
  • 6,70%
  • 5,40%
  • 1,60%
  • 1,10%
  • Last Updated : Kamis, 10 April 2014 18:39 , Sumber : Cyrus Network dan CSIS
  • 6.67%
  • 9.44%
  • 6.61%
  • 18.65%
  • 14.86%
  • 11.40%
  • 10.26%
  • 7.60%
  • 6.52%
  • 5.41%
  • 1.60%
  • 0.97%
  • Last Updated : Minggu, 20/04/2014 17:54 , Sumber : Radio Republik Indonesia
Selasa, 20/03/2012 22:23 WIB

Kris 'Sang Dokter' untuk Orang Rimba

Chaidir Anwar Tanjung - detikNews
Halaman 1 dari 3
Kris memeriksa warga Orang Rimba
Jambi - Kristiwan, begitu nama lengkap pria lajang berdarah Jawa ini. Sejak tahun 2008 silam, penyandang gelar Akademi Perawat ini lebih memilih hidupnya untuk berbagi info dan penanganan kesehatan buat Orang Rimba, sebuah komunitas suku pedalaman diProvinsi Jambi.

Kris, begitu sapaan akrabnya, sudah empat tahun ini bergabung dengan LSM Komunitas Konservasi Indonesia Warsi sebagai fasilitator kesehatan untuk Orang Rimba. Orang Rimba adalah komunitas penduduk yang tidak berbaur sebagaimana masyarakat umumnya. Orang Rimba hidup di belantara hutan kawasan taman nasional yang ada di Jambi.

Tugas Kris mulai dari memberikan penyuluhan tentang cara meningkatkan kualitas hidup melalui pola hidup sehat, penanganan gawat darurat kesakitan, hingga memfasilitasi Orang Rimba ke layanan kesehatan publik seperti Puskesmas, RS dan instansi terkait.

Banyak suka duka yang dialami pria kelahiran Semarang 22 Februari 1983 itu dalam menjalankan tugasnya. Berjalan kaki berjam-jam, naik dan turun perbukitan untuk menemui komunitas Orang Rimba, adalah bagian rutin pekerjaannya. Dalam perjalanan itu, Kris akan selalu dilengkapi dengan obat-obatan dan peralatan medis yang mungkin dibutuhkan Orang Rimba.

"Dahulu setiap sakit Orang Rimba lebih mengandalkan obat-obatan dari ramuan tumbuhan yang mereka temukan di rimba. Namun sejak terjadinya perubahan hutan, tumbuhan obatpun semakin sulit. Akibatnya Orang Rimba tak mampu lagi mengobati sakit yang ada pada mereka," tutur sang lokoter —demikian sebutan Orang Rimba terhadap tenaga kesehatan- dalam perbincangan dengan detikcom.

Untuk memperkenalkan pengetahuan kesehatan terhadap Orang Rimba bukanlah hal yang gampang. Selama ini masyarakat pedalaman ini hanya mengenal penanganan kesehatan lewat dukun. Pun dalam penanganan persalinan, dukun lebih banyak berperan aktif.

"Saya pernah ditolak ketika akan membantu proses persalinan. Alasan mereka sangat pantang ada orang lain, apa lagi di luar komunitas mereka, yang membantu proses persalinan," kata alumnus Akper Ngesti Waluyo Temanggung Jawa Tengah ini.Next

Halaman 1 2 3

Ratusan mahasiswa di universitas Samratulangi Manado saling serang. Belasan gedung perkuliahan hancur dan puluhan sepeda motor dibakar. Saksikan liputan lengkapnya dalam program "Reportase Malam" pukul 02.51 WIB hanya di Trans TV

(cha/vit)


Punya info seputar #LaluLintas? Jangan lupa kirim ke pasangmata.com .

Sponsored Link

Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
  • Kamis, 17/04/2014 12:31 WIB
    Dirut PT KCJ: Jangan Dulu Berharap Kereta Tepat Waktu
    Gb "PT KAI menggunakan track untuk kereta penumpang dan barang. Komuter di track yang sama. Dan jangan berharap ada ketepatan waktu jika rel digunakan bersama," kata Dirut PT KCJ Tri Handoyo.
ProKontra Index »

Bagi-bagi Kursi dan Menteri Itu Tidak Baik

Calon presiden PDIP Jokowi bertekad menguatkan sistem presidensial jika nanti terpilih. Jokowi menegaskan koalisi yang dibangunnya bukanlah koalisi bagi-bagi kursi dan jatah menteri. Dia mengatakan, yang akan diajak koalisi adalah partai-partai yang siap bekerja sama membangun bangsa dan negara tanpa meminta jatah kekuasaan. Bila Anda setuju dengan gagasan Jokowi, pilih Pro!
Pro
79%
Kontra
21%