
Pupuk Langka, DPR Diminta Tegur Keras Pemerintah
Senin, 24/11/2008 23:38 WIB
Jakarta
Kelangkaan pupuk yang terjadi di beberapa daerah di Indonesia belakangan ini diduga disebabkan oleh distribusi yang tidak beres. DPR pun diminta menegur keras pemerintah terkait masalah tersebut.
Hal itu terkuak lewat interupsi beberapa anggota dewan saat rapat paripurna Pembukaan Masa Persidangan II Tahun Sidang 2008-2009 di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Senin (24/11/2008).
"Masa tanam sudah dimulai, tetapi pupuk langka. Kami minta pemerintah ditegur secara keras, karena masalahnya cukup rumit, menyangkut distribusi nasional," ujar anggota FKB Abdullah Azwar Anas.
Anggota FPDIP, Aria Bima, dalam interupsinya juga menilai ada upaya pembiaran dari pemerintah terkait masalah kelangkaan pupuk belakangan ini.
"Kita harus ada suatu sikap untuk segera melakukan fungsi pengawasan. Besok atau kalau bisa hari ini, saya minta rapat khusus mengenai hal ini," tegas Aria.
Sementara itu anggota FPKS, Suswono, mengaku telah melakukan kunjungan ke gudang-gudang produsen di beberapa daerah dan menemukan kejanggalan terkait pendistribusian pupuk nasional.
"Saya menemukan di penyalur resmi, pupuk tidak ada. Malahan di penyalur tidak resmi pupuk menumpuk. Bahkan harganya dua kali lipat," beber Suswono.
"Dalam distribusi berarti ada yang tak beres," cetusnya.
Untuk langkah penanggulangan sementara, Suswono pun mengusulkan agar pemerintah segera melakukan operasi pasar di sentra-sentra produksi padi nasional. (lrn/mok)
Hal itu terkuak lewat interupsi beberapa anggota dewan saat rapat paripurna Pembukaan Masa Persidangan II Tahun Sidang 2008-2009 di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Senin (24/11/2008).
"Masa tanam sudah dimulai, tetapi pupuk langka. Kami minta pemerintah ditegur secara keras, karena masalahnya cukup rumit, menyangkut distribusi nasional," ujar anggota FKB Abdullah Azwar Anas.
Anggota FPDIP, Aria Bima, dalam interupsinya juga menilai ada upaya pembiaran dari pemerintah terkait masalah kelangkaan pupuk belakangan ini.
"Kita harus ada suatu sikap untuk segera melakukan fungsi pengawasan. Besok atau kalau bisa hari ini, saya minta rapat khusus mengenai hal ini," tegas Aria.
Sementara itu anggota FPKS, Suswono, mengaku telah melakukan kunjungan ke gudang-gudang produsen di beberapa daerah dan menemukan kejanggalan terkait pendistribusian pupuk nasional.
"Saya menemukan di penyalur resmi, pupuk tidak ada. Malahan di penyalur tidak resmi pupuk menumpuk. Bahkan harganya dua kali lipat," beber Suswono.
"Dalam distribusi berarti ada yang tak beres," cetusnya.
Untuk langkah penanggulangan sementara, Suswono pun mengusulkan agar pemerintah segera melakukan operasi pasar di sentra-sentra produksi padi nasional. (lrn/mok)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaru
Indeks Berita »
-
Kamis, 23/02/2012 03:00 WIB
Avanza Sruduk 5 Bajaj di Tebet
-
Kamis, 23/02/2012 02:01 WIB
Wow! Earth Hour 2012 Menghemat 5.580 MW Listrik di Indonesia
-
Kamis, 23/02/2012 02:00 WIB
18 Kota di Indonesia Berpartisipasi di Gerakan Earth Hour 2012
-
Kamis, 23/02/2012 01:33 WIB
Prangko Seri PON XVIII Diluncurkan di Bandung
-
Kamis, 23/02/2012 01:27 WIB
Satwa Liar Dijual Terbuka di Palembang
-
Kamis, 23/02/2012 00:40 WIB
Anggota DPR: Saya Hanya Dorong Petugas Bea Cukai, Silahkan Lapor Polisi!
-
Kamis, 23/02/2012 00:13 WIB
Beredar di BBM Tampar Petugas Bea dan Cukai, Anggota DPR Bantah
-
Rabu, 22/02/2012 14:12 WIB
Mengejutkan! Nazaruddin Tidak Cecar Andi Mallarangeng
-
Rabu, 22/02/2012 12:03 WIB
Hotman Paris Jebak Andi dengan Ferrari di Sidang Nazar
-
371 Komentar
-
349 Komentar
-
271 Komentar
-
255 Komentar
Lapsus
Index »
-
Senin, 20/02/2012 13:08 WIB
Galau Jenderal karena Shinta
Shinta Bachir: Saya Takut Berbalik ke Saya
-
Senin, 20/02/2012 12:24 WIB
Galau Jenderal karena Shinta
Berkencan di Dekat Presiden
-
Rabu, 22/02/2012 13:20 WIB
Kapolda Metro: Silakan Lihat Penangkapan John Kei Berpengaruh Tidak
Cari Penawaran Terbaik di Sini
Info Promosi Travel
- Rp 870.000
- Rp 473.000
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Alamatku
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer






Sending your message




---125x125.gif)
.gif)
.gif)
.gif)



